kemarin kebiadaban meraja, menjadi pemandangan bagi anakku.
bapak – bapak yang biasanya ramah berubah menjadi ganas dan beringas, beradu kuat dengan binatang, saling berlomba mengeluarkan nafsu kebinatangannya.
anak – anak bertingkah gembira, berceloteh riang. tapi sebagian ada juga yang takut -takut, menangis ….. barangkali perwujudan kepolosan hati sang anak yang tak sudi melihat hak – hak hidup binatang diperkosa oleh kuasa manusia, atau sang anak terkejut melihat peri kebinatangan yang melekat pada manusia … merajalela, menguasai manusia…..
ibu-ibu tak mau kalah, berteriak, memberi yel-yel penuh semangat tak peduli panas menyengat,
siang itu sehabis shalat jum’at.

ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
WALILLAHILHAMDD

hewan korban pun tumbang, diseret, digotong beramai-ramai ke tempat penjagalan.
orang-orang gembira, berteriak, suasana semakin semarak.
takbir, tahmid dan tahlil semakin bergema, ayat-ayat suci berkumandang, do’a-do’a di panjatkan.
suasana religius menguasai hari, aku terseret dalam euforia.

jagal bertindak, parang berkelebat, do’a-do’a semakin lantang, darahpun mengucur deras.
pemandu acara memanggil,” petugas sapi, petugas kambing agar bersiap-siap.”
dan para petugas bergerak cepat, lugas sambil tak lupa menjawab
“…..kami sapi, …kami kambing.”
rupanya hari raya kurban, dibalik kebiadaban ini telah terjalin persaudaraan antara sapi, kambing dan manusia.

bau kotoran, amis darah dan keringat menyengat, tapi tak ada yang peduli, semua berbaur dalam semangat kebersamaan. akhirnya walau tak ada yang ahli, semuanya tuntas.
panas terik, pedihnya goresan luka, semuanya tak terasa, hilang lenyap ditelan kepuasan.

anak – anak pulang.
bapak – bapak tersenyum senang.
magrib menjelang, malam kan datang.
tinggallah ibu – ibu yang malang, menyelesaikan pekerjaan yang tersisa, menghabiskan malam bersama sapi dan kambing di kamarnya.

ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
ALLAHU AKBAR
WALILLAHILHAMDD