sampono enda

Lihat foto ini, aku jadi ingak kakek, bapaknya ibundaku ( kami biasa memanggil beliau “ABAK”). Kalau aku jalan sama beliau di bonceng naik sepeda unto ( ontel ), dulu…orang bilang aku mirip beliau…” ko sia ko? Cucu datuak yo, mirip wajahnyo jo datuak”…. Yg lain bilang,” sorot matonyo samo bana jo datuak”……aku bangga, padahal mataku agak juling lho, beliau tidak, he he he … kalo wajah abak lebih runcing dagunya dari aku,…..jadi kangen sama beliau…

Udin datuak rajo nan sati, datuak suku chaniago, bertubuh kurus tinggi, sorot matanya teduh..tapi kokoh pada prinsip.

Hari itu, aku lagi menikmati libur sekolah di kampung,..lagi menikmati kue masakan nenek ( nenek emang penjual kue demi sekolah anak – anaknya ), datang tamu, ku tak tahu apa yang di bicarakan, tapi abak marah….

Setelah si tamu berlalu abak mengajakku pergi, naik sepeda unto kami menuju pantai…setibanya disana, kami disambut tegur sapa ramah dari nelayan yang pulang melaut, kebanyakan anak kemenakan beliau……..

Matanya jauh memandang ke depan,….

tidak pada nelayan yang sedang melipat jalanya….

atau nelayan yang sedang menarik biduak beramai-ramai ke tepi,….

tidak juga pada pulau cingkuak yang ada di depan…

tapi jauh ke tengah laut, seolah-olah beliau bisa melihat ujung langit di sebelah sana…..

….kemarahannya belum reda….

Di gulungnya rokok nipah bersama tembakau…di sulut…dihisapnya dalam..

Kemudian beliau berujar ,

“ laki-laki merupakan paga nagari, tonggak rumah gadang, panjago harato pusako..bukan jadi tukang hamburkan, panjua tanah panjua warisan.”

Satu hisapan lagi …asap mengepul tertiup angin, melanjutkan kata,

” laut tak selamanya bisa jadi sandaran, maka sawah ladang jangan di jual, tak semua anak kemenakan bisa jadi orang pintar, dengan apa mereka akan makan ?”

Berhenti lagi…sedotan yang kuat…kerisauan bercengkrama dengan angin pantai…

“ jangan sampai anak painan jadi pendatang di kampuangya sendiri, jangankan sawah jo ladang, sepetak tanah untuk rumah tinggal pun nanti tak punya,…kemana mereka akan pulang ? dimana mereka akan tinggal?”

Beliau menoleh, menatapku …dalam sangat dalam…begitu teduh..aku bagai terhipnotis…

“ kalau besar jangan mau di perbodoh orang, jangan mementingkan diri sendiri apalagi hanya untuk menuruti nafsu duniawi…, seandainya kamu jadi orang pintar jangan bodohi kaummu,…..belajarlah yang rajin….”

Aku hanya diam memandangnya, aku hanya seorang bocah kecil yang belum mengerti apa-apa…….

Ku linting daun nipah, tergulung bersama tembakau, ku bakar dan kusulut lembut, kunikmati kebersamaan di pagi itu..berdiri di samping kakek, memandang laut sambil rokok nipah terselip di antara dua jari…walau berlagak dewasa, aku tetap tak mengerti…

Merokok ? ….ada pameo untukku di kalangan keluarga….he hehehe

Saat dikepala ada kemarahan-kemarahan, emosi yang tak terkendali, saat rasa lelah menghinggapi, aku jadi sering memandang laut, berdiri di pasir pantai sambil mata jauh memandang ke tengah, kebisaan yang melekat sampai sekarang, …tak kusadari, kebiasaan itu timbul karena sebuah kenangan … kenangan akan ABAK …

Walau beliau sudah tiada, saat aku kelas 3 SD, tapi sepertinya kenangan itu seperti tergambar jelas, membayang di ingatan…..

Kerisauan yang muncul di suatu pagi, tentang negri, tentang munculnya generasi pintar tapi kosong…generasi yang menitipkan rasa peduli pada materi, generasi yang…….

Keluh kesah lagi…lebih baik ku bernyanyi menghibur hati…

Tanah pertiwi anugerah illahi jangan ambil sendiri

Tanah pertiwi anugerah illahi jangan makan sendiri

Aku heran satu kenyang seribu kelaparan

Aku heran keserakahan di agungkan

Aku heran yang salah di pertahankan

Aku heran yang benar di singkirkan

………….

panex…….bisuak se kok ingek….bacarito awak liak…