wajah – wajah ceria nan menyemburatkan kebahagiaan dalam keriaan tubuh – tubuh muda, bermacam eksperesi yang di tunjukkan tertandai dalam warna – warni grafiti yang menghiasi baju putih abu- abu yang melekat di tubuh. suara klakson kendaraan roda dua meningkahi pekik tawa merambahi jalan – jalan kota … siang yang meriah.

parade kelulusan para remaja tanggung yang menarik hati dan aku tersenyum teringat pada jamanku sambil menikmati sedikit kemacetan  yang di timbulkan oleh ulah tingkah mereka.

biarlah hari ini menjadi milik mereka karena munkin esok hari mereka akan menjalani hidup yang keras, realita yang tak seindah cerita. biarlah mereka menikmati setiap detik di ujung kebersamaan bersama rekan – rekan seangkatan karena hari ini takkan terulang, hari ini adalah akhir dari sebuah kisah tapi juga awal dari sebuah babak.

mentari yang terik menjadi saksi atas satu angkatan pencari kerja lagi, sebagian munkin tak khawatir karena orang tuanya sanggup untuk membiayai pendidikan mereka selanjutnya, tapi sebagian besar munkin tidak. sebuah ironi di negri yang gemah ripah loh jinawi, sebuah permasalahan mengakar  yang selalu tanpa solusi, sebuah permasalahan mendasar yang tak kunjung terjawab juga oleh dunia pendidikan kita dan solusi – solusi dari para orang cerdik negri ini selalu tergantung di langit, terlalu sulit untuk mereka capai, mereka gapai.

sesaat aku terhanyut suasana…. ku termangu…. hingga dentang klakson kendaraan di belakangku membuyarkan, mengingatkanku untuk melaju.

yah … hidup ini hanya mau berkompromi dengan mereka – mereka yang bisa bersosialisasi dengan kemajuan, berinteraksi dengan kerasnya kehidupan, walau kadang tak peduli dengan budaya dan etika yang kita pelajari di bangku pendidikan karena hukum alam akan berlaku, yang lambat akan tergilas…. yang lemah akan tertindas.

dan waktu menuntut aku untuk terus mempercepat laju kendaraan, memacu ntuk meninggalkan kerumunan yang mengingatkan akan masa silam.