*Gempa

Aku mendengar suara, lambat ia menyapa,

memeluk huruf-huruf, retak, jatuh, membenamkan.

Perjamuan siang, ketika alfa menghitung penat, karna seminggu pulang telat.

Maka, semua seperti tergesa, dunia bergerak cepat.

Oh…ya, aku dipaksa mencatat, menjadi saksi atas guncangan-guncangan di kamar,

kita bersembunyi dibalik selimut: menyayat sejarah.

Betapa berpeluhnya siang itu.

Kata-kata sakti terparkir, udara menjadi kering, para malaikat menggedor atap-atap.

Maka bersembunyilah aku dikeramaian, hiruk dan kepanikan.

Beberapa jam kemudian, aku menjerit, mendengar jerit,

suara-suara air mata, menghitung ketiadaan dalam pekatnya biru langit.

Huruf-huruf nan tadi saling peluk kini berhamburan.

Mereka berlari diguncangan berikutnya.

Sembari merapatkan tangan aku dipaksa menjadi saksi. ***

Painan.

(puisi ini diikutkan dalam antologi puisi kasih – tanah, air, udara)

*Mata Tanya

Aku tak ingin mempertanyakan apa-apa dari apa yang ku lihat.
Sebab, tak semua tanya harus di jawab.
Alangkah bergegasnya waktu bila hujan berwarna jingga,
dan perlahan membasuh mata.

Mata dari tanya, menyerupai mata ombak yang menghempas karang.

Aku tak ingin mempertanyakan apa-apa dari apa yang ku dengar.
Gersangku, gersangmu menutup tanya, membiarkan senja lewat begitu saja.
Dan kebisingan kota menyadarkan kita betapa waktu selalu menghukum yang beku, memenjarkan yang telah berlabuh.

Mata dari tanya, menyerupai pelabuhan sepi, tempat kita pernah memadu kasih.

Aku tak ingin mempertanyakan apa-apa dari apa yang ku bau.
Wangi dan busuk hanyalah aroma, dan aroma tubuhmu masih tersisa,
membentuk malam.
Malam buta salalu punya alasan untuk berdebat,
dan selalu saja menyisakan banyak tanya.

Mata dari tanya, menyerupai puisi miris, di pentaskan sendiri dikamar sepi.***

Painan, Januari 2010

( dimuat di padang ekspres, 07 – 02 – 2010 )

* Langkisau 2

Pilihlah, datang ketika subuh ranum:
saat dingin pacu-berpacu dengan matahari terbit,
manisnya embun dan segala yang ada seperti menyuruhmu hidup untuk selamanya.

Mungkin ada yang mau memilih siang ketika angin berhembus,
para penerbang membantangkan parasut mereka,
semua kebebasan merasuki kulitmu,
mengkutuk semua ketakutan,
dan pesona paralayang mangantarmu kelaut tanpa ujung,
mereka terbang kau juakan ingin terbang: angan merangkul kemerdekan.

Sore, pilihan yang sempurna, langit berwarna merah,
sunset juara disana: jingga.
Satu-dua masih ada penerbang merangkul hangat matahari yang akan tenggelam, tanggelam dimata mereka,
juga setiap mata yang tertuju pada fokus yang sama,
beku yang merdeka.

Dan yang datang saat malam lembut: dimana banyak peluk-cumpu.
Semua kisah dibantang, terang benarang, tangan bergenggam, desahan kopi hangat, sepakat semuanya seperti perintah perang, merintaih bernyanyi.

Pilihlah.***

September 2009

memedi bukik langkisau

BIODATA:

Yuka Fainka Putra, Bekerja di Komunitas Halaman Pantai, Painan. Tahun 2009, Menulis Buku Antologi Puisi Indie, “Malam-Malam di Halaman Pantai”. Selain itu puisinya juga tergabung di: Dua Episode Pacar Merah (2004), Antologi Puisi Festival Bulan Purnama (2010). Menetap di Kota Kelahiran, Painan … dimana laut, ombak dan karang menjadi sahabatnya.

Goresannya juga telah di publikasikan di media-media: KOMPAS.com, Bali Post, Padang Ekspres, Singgalang, Haluan, Minggu Pagi Jogya, KR Merapi Jogya, KR Bisnis Jogya, Jambi Independent. dll.