Ada sedikit kesibukkan warga yang membuat ku menghentikan kendaraan, rupanya panitia pemungutan suara untuk pemilihan walikota di lingkunganku lagi mempersiapkan “arena” pencoblosan. Rasa segan membawaku untuk nimbrung ikut bantu – bantu, sampai mentari telah ikut memanaskan ubun – ubun, tak banyak warga yang hadir, cuma para panitia dan satu dua warga yang bergotong royong.

Esoknya sekitar jam delapan pagi aku melewati arena pencoblosan dan anakku yang baru berusia tiga tahun nyeletuk, ” pak ada yang pesta, ntar kita singgah ya …”
Entah munkin karena celetukkan si anak atau entah apa, membuat ku berhenti dan berjalan menuju arena pencoblosan menunaikan kewajiban …. kewajiban mencoblos … entah mau coblos siapa aku tak tahu, yang penting mencoblos blos blos… hehehehhe

Apatis? … munkin… munkin aku termasuk golongan ini padahal telah begitu banyak biaya yang telah digelontorkan negara untuk ini. Bukan tak percaya pada sistim, tapi munkin sedikit pembangkangan bahwa sistim yang ada perlu pembenahan. Bukti nyatanya hampir bahkan lebih dari 20% pemilih untuk setiap pemilukada tak menggunakan hak pilihnya.

Jadi aku punya banyak kawan dengan alasan yang munkin beragam, mulai dari ketidakpercayaan hingga kebosanan karena terlalu sering di jejali berita dari pemilukada yang selalu santer tentang warta tak mengenakkan ( terutama bagi pihak yang kalah ). Dan juga munkin tentang pemborosan anggaran negara untuk tiap pelaksanaan pemilukada, padahal kita lebih butuh banyak dana untuk pelaksanaan pembangunan.

Dan kayaknya kenapa tak di coba wacana satu paket antara pemilihan Gubernur dengan Walikota / Bupati ?

Banyak hal yang bisa diperdebatkan tapi alasannya sederhana ( kalau bagi saya ), sekali kerja 2 urusan selesai … karena setiap “suksesi” selalu menimbulkan situasi mengambang yang tentu saja berpengaruh terhadap dunia usaha serta kerja dan juga agar rakyat tak bosan dan bisa fokus terhadap usahanya masing –masing.

Ada banyak alasan lain, dan munkin sahabat – sahabat punya alasan tersendiri … silahkan tambahkan saja …